Oleh: Dr. Adi Suparto dan Tim Penyelaras
I. Dari Istana ke Rembang, Suara yang Sampai ke Pinggiran
Hanya tiga hari setelah Presiden Prabowo Subianto menerima para pakar, cendekiawan, dan tokoh di Istana Merdeka, datanglah pertemuan lain yang tidak kalah bermakna. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berkunjung ke Rembang, Jawa Tengah. Bukan untuk memeriksa pos keamanan, bukan pula meresmikan gedung baru. Ia datang untuk menghormati, mendengarkan, dan memohon doa kepada KH Ahmad Bahauddin Nursalim, Gus Baha bersama ribuan jamaah dalam acara Ngaji Kebangsaan.
Dari pusat kekuasaan di Jakarta hingga ke pinggiran Jawa Tengah, satu hal yang tampak: pemimpin mulai menyadari; arah yang benar tidak selalu datang dari dalam ruangan yang ber-AC.
II. Ulama Sebagai Lentera dan Kompas-Makna Dua Kata
Ungkapan Kapolri: "Ulama menjadi lentera dan kompas bagi bangsa", bukan sekadar ungkapan penghormatan. Ada makna mendalam di sana:
- Lentera; memberi cahaya saat jalan gelap. Tidak menuntut dipimpin, melainkan menerangi agar semua dapat melihat jalannya sendiri. Di tengah kebimbangan, perpecahan, dan ketidakpastian, ulama menampakkan kebenaran yang sederhana: adil, jujur, peduli sesama.
- Kompas; tidak pernah salah arah. Jarumnya selalu menunjuk ke kutub yang sama, meski angin berhembus kencang. Ulama menjaga arah agar negara tidak tergelincir dari jalur keadilan, tidak tergoda oleh kekuasaan sesaat, tidak melupakan rakyat yang kecil dan lemah.
Lentera tidak memerintah. Kompas tidak berkuasa. Tapi tanpa keduanya, sekuat apa pun pasukannya, sebesar apa pun hartanya; bangsa akan tersesat.
III. Ketika Negara Turun dari Podium
Ada kesamaan antara pertemuan di Istana dan pertemuan di Rembang: keduanya terjadi karena pihak berkuasa memilih untuk mendengar, bukan berbicara.
Baca Juga: Dugaan Praktik Cashback Anggaran Media di Kota Bekasi Disorot, Pakar Minta Penelusuran Tuntas
- Di Istana: Presiden mendengarkan para pakar, mengakui kesalahpahaman, membuka diri terhadap nasihat.
- Di Rembang: Kapolri hadir bukan memberi arahan, melainkan memohon bimbingan. Mengakui bahwa menjaga keamanan tidak cukup dengan senjata dan barak; perlu juga doa, petunjuk, dan kebijaksanaan yang lahir dari ketakwaan.
Inilah kekuatan yang sesungguhnya: bukan ketika rakyat takut kepada pemimpin, melainkan ketika pemimpin takut berbuat salah di hadapan rakyat yang saleh.
IV. Ulama dan Umara, Tangan Kanan dan Kiri Bangsa
Kapolri mengajak: "Mari umara dan ulama terus bergandengan tangan."
Dua kekuatan ini ibarat dua sayap bangsa:
Baca Juga: BGN di Pusaran Korupsi: Pembersihan Nyata atau Sekadar Rebranding?
- Ulama menjaga moral, nurani, arah kebenaran
- Umara menjaga ketertiban, kedaulatan, pelayanan rakyat
Jika salah satu patah, bangsa tidak akan terbang tinggi. Jika salah satu mendahului tanpa teman, ia akan condong dan jatuh. Sejarah kemerdekaan membuktikan: ketika ulama dan umara berjalan beriringan, penjajah dapat diusir. Ketika keduanya berpisah, bangsa menjadi mudah diatur oleh kepentingan asing.
V. Tetapi Harap Diingat: Penghormatan Harus Dijadikan Kebenaran
Pertemuan-pertemuan ini menyegarkan harapan. Namun penghormatan yang indah di panggung harus tumbuh menjadi keadilan yang nyata di lapangan:
Baca Juga: MBG Disorot, Adi Suparto Desak Transparansi Pengelolaan Yayasan dan Mitra BGN
- Jika ulama berkata: jangan menindas yang lemah; maka kebijakan tidak boleh memihak yang kuat
- Jika ulama berkata: jangan korupsi; maka yang dicurigai tidak boleh dilindungi hanya karena pangkatnya tinggi
- Jika ulama berkata: adil kepada semua; maka hukum harus sama ketatnya bagi pejabat maupun rakyat biasa
Lentera tidak berguna jika cahayanya hanya menyinari panggung pertemuan. Kompas tidak berguna jika arahnya diabaikan setelah acara selesai.
VI. Penutup
Dua pertemuan dalam satu minggu, di Istana dan di Rembang; mengingatkan kita: kekuasaan yang besar tidak membuat seseorang menjadi bijaksana. Yang membuatnya bijaksana adalah kemampuan untuk mendengar, kerendahan hati untuk belajar, dan keinginan tulus untuk berbuat benar.
Semoga penghormatan ini bukan sekadar kata-kata. Semoga arah yang ditunjukkan lentera dan kompas itu dijalankan dengan teguh. Karena rakyat tidak hanya melihat siapa yang diundang ke istana atau siapa yang dikunjungi ke pesantren. Rakyat melihat: apakah kebenaran itu akhirnya sampai juga ke dapur mereka.
Penulis: Analis Komunikasi Politik
Editor : Redaksi